Kalau dipikir-pikir, payudara itu kan sebenarnya cuma bagian dari anatomi tubuh kita, ya. Tapi anehnya, kenapa sih urusan yang satu ini sering banget jadi bahan omongan dan memicu stigma yang nggak ada habisnya? Mulai dari urusan menyusui, perjuangan melawan kanker, sampai masalah seksualisasi tubuh. Rasanya kok perempuan selalu ada di posisi yang serba salah.
Biar nggak makin bingung, yuk kita bedah pelan-pelan kenapa stigma ini masih aja awet di masyarakat kita!
1. Drama Menyusui di Tempat Umum: Kebutuhan Alami yang Dianggap Tabu
Pernah nggak sih kamu lihat ibu-ibu yang lagi menyusui bayinya di tempat umum, terus malah dipandang sinis atau diomongin dari belakang? Ini beneran ironis banget. Padahal, fungsi utama payudara secara biologis itu ya buat ngasih kehidupan alias ngasih ASI buat bayi.
Lucunya, masyarakat kita sering punya standar ganda yang bikin geleng-geleng kepala. Di media, iklan, atau film, bagian tubuh ini gampang banget dieksploitasi buat menarik perhatian. Eh, giliran dipakai buat fungsi aslinya—yakni menyusui—malah disuruh “sembunyi” karena dianggap tabu atau nggak sopan. Gara-gara ini, banyak ibu menyusui yang jadi stres, malu, dan kesulitan ngasih hak anaknya saat lagi di luar rumah.
2. Pejuang Kanker Payudara: Kehilangan Bagian Tubuh Bukan Berarti Kehilangan Jati Diri
Nah, stigma lain yang nggak kalah bikin nyesek juga sering dirasain sama para survivor kanker payudara. Banyak dari mereka yang harus ngelewatin prosedur mastektomi (pengangkatan payudara) demi nyelamatin nyawa.
Sayangnya, kita hidup di lingkungan yang masih sering ngukur “kesempurnaan” dan kecantikan perempuan dari bentuk fisiknya. Akibatnya, kehilangan payudara sering disamakan dengan hilangnya feminitas. Coba bayangin, mereka ini habis berjuang hidup dan mati melawan penyakit mematikan, tapi setelahnya malah harus berjuang lagi ngelawan omongan orang dan krisis krisis percaya diri. Padahal, ketangguhan mereka buat survive itulah yang bikin mereka jauh lebih berharga daripada sekadar fisik semata.
3. Stop Seksualisasi Berlebihan!
Akar dari semua keribetan dan stigma ini sebenarnya bermuara di satu hal: kebiasaan masyarakat yang masih suka menseksualisasi tubuh perempuan secara berlebihan. Ukuran dan bentuk payudara sering banget dikotak-kotakkan pakai standar kecantikan yang nggak realistis.
Dampaknya apa? Banyak banget perempuan yang jadi insecure, cemas sama badannya sendiri (body image anxiety), sampai nekat lakuin berbagai cara berisiko cuma buat menuhin standar sosial yang toksik. Objektifikasi kayak gini bikin nilai seorang perempuan seolah-olah cuma mentok di penampilannya aja.
Yuk, Mulai Berubah!
Udah waktunya kita buang jauh-jauh stigma kuno ini. Kita perlu banget ngebangun lingkungan yang lebih aman dan supportive buat semua perempuan.
Caranya simpel kok: mulai normalisasi ibu yang menyusui di ruang publik, hargai perjuangan para survivor kanker tanpa menghakimi fisik mereka, dan yang paling penting, berhenti menilai perempuan cuma dari bentuk tubuhnya. Tubuh kita adalah otoritas kita. Setiap perempuan berhak merasa nyaman, aman, dan percaya diri dengan dirinya sendiri!
Sumber: https://www.cna.id/lifestyle/stigma-payudara-perempuan-yang-tak-pernah-usai-menyusui-kanker-seksualitas-47011

Tinggalkan komentar