Kabar mengejutkan datang dari Gaza City. Pada Rabu dini hari (16 September), sebuah bangunan tempat tinggal setinggi 6 lantai di wilayah Tal al-Hawa runtuh secara mendadak ketika para penghuninya sedang beristirahat. Pihak otoritas Gaza menyampaikan bahwa korban tewas mencapai 21 orang, yang mencakup 12 anak-anak serta 5 perempuan, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Struktur bangunan tersebut sebenarnya telah mengalami retakan parah akibat terkena serangan Israel ketika masa perang berlangsung. Walau telah ada peringatan mengenai bahayanya, sejumlah keluarga pengungsi memilih untuk tetap tinggal di sana. Alasan mereka sangat mendasar karena keterbatasan tempat tinggal dan tenda yang nyaris tidak tersedia, sehingga pilihan mereka terbatas antara bertahan di tenda yang padat atau bangunan miring yang hampir roboh.
Ketika insiden runtuhnya gedung terjadi, reruntuhan material juga menghantam area tenda yang berada di sekitarnya. Petugas penyelamat pada mulanya terpaksa melakukan pencarian menggunakan tangan kosong akibat keterbatasan alat berat. Sejumlah laporan sempat mengindikasikan adanya suara dari balik tumpukan puing. Dilaporkan pula ada satu keluarga yang selamat karena berada di bagian bangunan yang miring, sementara sembilan kerabat dari keluarga besar mereka justru menjadi korban jiwa.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan situasi di Gaza yang tetap rentan di tengah kondisi gencatan senjata yang tersendat. Masih banyak ribuan bangunan yang mengalami kerusakan namun tetap ditempati warga karena ketiadaan opsi tempat lain. Ancaman ambruknya bangunan-bangunan tersebut juga berpotensi meningkat apabila musim hujan tiba.
Sumber: Dawn | 12 children among 21 killed as building collapses in Gaza | AFP | 17 September 2026 | *ilustrasi AI

Tinggalkan komentar