• Ia sedang duduk di sana pada suatu sore di awal Juni. Sinar mentari masuk melalui jendela, hangat dan cerah; kebun buah di lereng di bawah rumah itu ditumbuhi bunga-bunga berwarna putih-merah muda, dan diselimuti oleh sekumpulan lebah. Thomas Lynde—pria kecil lemah lembut yang lebih sering disebut “suami Rachel Lynde” oleh warga Avonlea—sedang menabur benih lobak terakhir di ladang bukit di belakang lumbung; dan Matthew Cuthbert seharusnya juga sedang menabur benihnya di ladang di tepi anak sungai merah besar dekat Green Gables. Nyonya Rachel mengetahuinya karena ia mendengarnya memberi tahu Peter Morrison saat petang hari kemarin di toko William J. Blair’s di Carmody bahwa ia akan menabur benih lobaknya esok sore. Peter yang bertanya, tentu saja, karena Matthew Cuthbert dikenal tidak pernah memberi tahu informasi apa pun kepada siapa pun selama hidupnya jika tidak ditanya.

    Namun, di sana lah Matthew Cuthbert, pada pukul setengah tiga sore di hari yang sibuk, dengan tenang mengemudikan kereta kudanya melewati lembah dan mendaki bukit; terlebih lagi, dia mengenakan kerah putih dan pakaian terbaiknya, yang menjadi bukti nyata bahwa ia akan pergi keluar Avonlea; dan dia pergi menggunakan kereta kuda bersama kuda coklatnya yang kemerah-merahan, menandakan bahwa dia akan menempuh jarak yang cukup jauh. Mana kah tujuan Matthew Cuthbert dan mengapa dia pergi ke sana?

    Jika pria itu bukan Matthew Cuthbert tetapi pria lain dari Avonlea, Nyonya Rachel, yang dengan cekatan menghubungkan informasi satu dan lainnya, mungkin dapat memberikan jawaban bagus untuk kedua pertanyaan tersebut. Namun, Matthew sangat jarang pergi dari rumah jika bukan karena hal mendesak dan tidak biasa; dia adalah pria paling pemalu yang pernah ada dan benci jika harus bertemu orang asing atau pergi ke suatu tempat yang mengharuskan dia berbicara. Matthew, yang berdandan rapi dan pergi mengendarai kereta kuda, bukanlah hal yang sering terjadi. Nyonya Rachel berusaha keras untuk merenungkan alasan Matthew dan tidak bisa berbuat apa-apa. Kesenangan sorenya pun rusak berantakan.

    Ilustrasi Fosil oleh Emil Hochdanz. CC0

  • Nyonya Rachel tinggal tepat di jalan utama Avonlea di sebuah lembah kecil, dibatasi dengan pohon alnus dan fuschia, dan dilewati anak sungai yang sumbernya berada jauh di dalam hutan dekat tempat tinggal Cuthbert yang lama; anak sungai yang terkenal rumit, panjang berliku di dalam hutan, dengan rahasia kelam tentang kolam dan air terjun, tetapi ketika sampai di Lembah Lynde alirannya kecil dan tenang, bahkan anak sungai pun lewat depan pintu rumah Nyonya Rachel Lynde dengan sopan, layaknya anak sungai ini tahu bahwa Nyonya Rachel duduk di sebelah jendela rumah, menatap tajam segala hal yang lewat, mulai dari anak sungai hingga anak-anak di sekitar. Dan jika ia melihat sesuatu yang aneh atau tidak pada tempatnya, ia tidak akan berhenti sebelum menemukan alasan dan solusi atas apa yang perlu ia lakukan terhadapnya.

    Ada banyak orang dari dalam dan luar Avonlea, yang memperhatikan urusan tetangga tetapi mengabaikan urusannya sendiri; namun Nyonya Rachel Lynde merupakan orang yang dapat menangani urusan pribadi dan urusan orang lain secara seimbang. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang terkenal; pekerjaannya selalu dikerjakan dan diselesaikan dengan baik; ia “mengelola” Perkumpulan Menjahit, membantu menjalankan sekolah minggu, dan merupakan pendukung utama dari Lembaga Bantuan Gereja dan Pembantu Misi Asing. Namun, dengan semua aktivitasnya, Nyonya Rachel masih punya banyak waktu untuk duduk selama berjam-jam di sebelah jendela dapurnya, merajut selimut “lungsin katun”—telah diselesaikannya enam belas rajutan, seperti yang diceritakan para pembantu rumah tangga di Avonlea dengan kagum—sambil jeli mengawasi jalan utama yang membelah lembah dan berkelok di samping bukit merah terjal di kejauhan. Karena Avonlea berada di semenanjung segitiga kecil yang menjorok ke Teluk St. Lawrence dengan air laut di kedua sisinya, siapa pun yang keluar atau masuk ke Avonlea harus melewati jalan bukit itu dan tanpa sadar lewat di depan Nyonya Rachel yang memantau segalanya.

    Ilustrasi Batu Permata oleh Emil Hochdanz. CC0

  • Mas Dhito Ajak Kapolres Baru Bersinergi Melayani Masyarakat Kabupaten Kediri

    Kediri – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menyebut AKBP Bramastyo Priaji bukan merupakan sosok baru di Kabupaten Kediri.

    Pada jabatan sebelumnya sebagai Kapolres Kediri Kota, perwira menengah Polri itu memiliki wilayah kerja yang mencakup 8 kecamatan. Lima diantaranya masuk wilayah administrasi Kabupaten Kediri tepatnya kecamatan yang ada di barat Sungai Brantas.

    Kini, dengan jabatan baru sebagai Kapolres Kediri, wilayah kerja yang menjadi tanggung jawab AKBP Bramastyo Priaji jauh lebih luas, mencakup 21 kecamatan.

    “Bagi Pak Bram ini saya rasa tidak sulit karena satu tahun lebih sudah di Kediri,” kata Mas Dhito saat acara pisah sambut Kapolres Kediri di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Rabu (9/7/2025) malam.

    Sebagai Kapolres Kediri, Mas Dhito pun berharap AKBP Bramastyo Priaji dapat bersinergi dengan pemerintah daerah untuk melayani masyarakat Kabupaten Kediri.

    Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan bupati muda ini bersama AKBP Bimo Ariyanto yang kini mendapatkan promosi jabatan sebagai Kepala Bagian Pembinaan dan Karier (Kabag Binkar) Biro SDM Polda Jatim.

    “Pak Bram selamat bertugas, semoga nanti kita dapat bekerjasama dan memberikan manfaat bagi masyarakat Kabupaten kediri,” ucap Mas Dhito.

    Disisi lain, bagi Mas Dhito sosok AKBP Bimo Ariyanto yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Kediri itu tidak sekedar rekan kerja, melainkan sahabat. Terlebih keduanya sama-sama hobi memelihara ikan koi.

    Dalam acara tersebut, Mas Dhito pun memberikan kenang-kenangan foto sahabatnya itu memegang ikan koi di pinggir kolam.

    “Saya selalu mendoakan keduanya baik Pak Bram maupun Pak Bimo semoga sukses,” tambah Mas Dhito.

    Sementara itu Kapolres Kediri yang baru AKBP Bramastyo Priaji dalam sambutannya meminta dukungan kepada semua pihak bisa bersinergi menjaga Kabupaten Kediri tetap aman sehingga masyarakat merasa nyaman untuk tinggal.

    “Kami akan selalu terbuka dan siap sewaktu-waktu untuk diajak berkoordinasi,” kata AKBP Bramastyo yang juga didampingi istri dan ketiga anaknya tersebut.

  • Sekolah Negeri yang Didirikan Mas Dhito ini Jadi Solusi Bagi Warga di Wilayah Blank Zonasi

    Kediri – Memperluas akses layanan pendidikan bagi warga terutama di wilayah pinggiran, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mendirikan sekolah baru di area blank zonasi, salah satunya SMP Negeri 3 Mojo.

    Sekolah yang berlokasi di Desa Kedawung Kecamatan Mojo ini pada tahun ajaran 2025/2026 ini mulai membuka pendaftaran siswa baru. Berdirinya sekolah baru ini menjadi solusi bagi masyarakat yang berada di daerah pinggiran yang selama ini terkendala jarak untuk bisa masuk ke sekolah negeri.

    Hingga hari kedua pelaksanaan daftar ulang, Selasa (8/7/2025) setidaknya sudah ada 51 anak yang datang menyerahkan berkas dokumen persyaratan daftar ulang. Seorang wali siswa yang ditemui mengaku berdirinya SMP Negeri 3 Mojo ini memudahkan warga untuk mengakses pendidikan ke sekolah negeri.

    “Jaraknya juga lebih dekat dengan rumah, anak untuk sekolah naik sepeda saja bisa,” aku Isroul Fauziah, salah satu wali murid yang ditemui saat hari kedua daftar ulang Selasa (8/7/2025).

    Untuk tahun ajaran pertama ini, sudah terdapat tiga ruang kelas yang berdiri dan siap digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Sementara itu, proses pembangunan gedung baru untuk ruang kelas, perpustakaan, termasuk kantor masih terus berjalan.

    Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin menyebut, pendirian SMP Negeri 3 Mojo ini menjadi bagian program prioritas Mas Dhito (sapaan bupati Kediri) untuk memperluas akses layanan pendidikan bagi masyarakat, sekaligus untuk mengurangi angka anak tidak melanjutkan sekolah.

    “Dengan pendirian sekolah ini, anak-anak tetap bisa sekolah negeri dengan lokasi yang masih bisa dijangkau,” katanya.

    Disebutkan Muhsin, selama ini bagi warga yang berada di sekitar sekolah baru itu, karena berada di wilayah blank zonasi tidak bisa masuk ke sekolah negeri kecuali melalui jalur prestasi. Sehingga untuk melanjutkan pendidikan, anak-anak masuk ke sekolah swasta.

    “Untuk mengatasi masalah zonasi ini, selain pembangunan sekolah baru, kini juga mengkaji untuk penambahan kelas di sekolah-sekolah sekitar atau penambahan pagu rombel (rombongan belajar),” tambahnya.

    Selain SMP Negeri 3 Mojo ini, untuk mengatasi persoalan blank zonasi, sebelumnya Mas Dhito juga telah mendirikan SMP 2 Ngasem. Kemudian, pendirian sekolah SMK Canda Bhirawa di Kecamatan Ngancar dan Ringinrejo.

    Sementara, untuk memfasilitasi akses pendidikan bagi warga dari keluarga kurang mampu namun terkendala biaya, Mas Dhito mendirikan SMA Dharma Wanita Boarding School di Kecamatan Pare. Seluruh siswa yang berhasil masuk sekolah ini, digratiskan dari seluruh biaya hingga lulus.

  • Mbak Cicha Tegaskan Rumusan Program TP-PKK Kabupaten Kediri Cakup Seluruh Aspek Kehidupan

    Samarinda – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Kediri Eriani Annisa Hanindhito berkomitmen menjalankan program kerja yang menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat.

    Hal ini disampaikan saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) X dan Puncak Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) ke-53 tahun 2025 di Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (8/7/2025).

    Mbak Cicha, sapaannya, menyampaikan semangat yang dibawa Ketua Umum TP-PKK Pusat Tri Tito Karnavian, menjadi motivasi bagi TP-PKK Kabupaten Kediri untuk terus bergerak sebagai mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.

    Pihaknya menjelaskan, seluruh program TP-PKK Kabupaten Kediri telah dirancang selaras dengan arahan pusat, khususnya dalam memberdayakan masyarakat mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Aspek yang disentuh mencakup ekonomi keluarga, pendidikan karakter, pola asuh anak, hingga kesehatan.

    “Program yang dirumuskan oleh Pokja (kelompok kerja) I hingga IV di Kabupaten Kediri telah mengacu pada 10 Program Pokok PKK pusat yang mencakup seluruh aspek kehidupan,” tegas Mbak Cicha.

    Rumusan program itu di antaranya dijalankan melalui Pokja I, yakni pendampingan psikososial bagi anak dan keluarga korban hukum, kegiatan keagamaan seperti Pondok Ramadhan dan santunan anak yatim, pentas kreativitas difabel, festival lansia, serta pelatihan parenting.

    Kemudian, Pokja II dengan meningkatkan literasi anak usia dini, peningkatan kualitas guru PAUD, serta penguatan program parenting. Pokja III melalui aksi gotong royong menjaga lingkungan, pemanfaatan pekarangan rumah, dan penggunaan bahan baku lokal untuk kebutuhan keluarga.

    “Pokja IV melalui pelayanan Posyandu, program imunisasi dan penyuluhan kesehatan, perlindungan anak dan perempuan, serta pemeriksaan kesehatan berkala,” beber Mbak Cicha.

    Sementara itu, dalam arahannya pada Rakernas, Ketua Umum TP-PKK Pusat Tri Tito Karnavian, turut menyoroti pentingnya peran TP-PKK dalam menangani persoalan stunting. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional pada 2024 tercatat sebesar 19,8%, menurun 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

    “Tetapi jangan berhenti sampai di sini, kita masih terus memerangi stunting ini,” sambungnya.

    Tri Tito berharap kegiatan yang diikuti 2.200 kader PKK ini sebagai momentum untuk memperkuat koordinasi dan evaluasi program PKK, sehingga TP-PKK setiap daerah, khususnya Kabupaten Kediri, dapat hadir secara nyata dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

  • Respon Cepat Ringankan Beban Petani, Mas Dhito Salurkan Ribuan Kilogram Benih Jagung dan Padi

    Kediri – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramono menunjukkan respon cepat dengan menyalurkan bantuan benih pertanian. Bantuan ini diberikan sebagai langkah kepedulian bupati muda itu dalam meringankan beban petani akibat lahan sawah yang terendam banjir.

    Begitu menerima laporan dari warga, Mas Dhito segera menginstruksikan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri untuk menindaklanjuti. Dalam hal ini, Plt. Kepala Dispertabun Sukadi mengalokasikan benih sesuai kebutuhan petani, termasuk apakah untuk masa tanam padi atau jagung.

    Sebanyak 4 titik desa yang mendapat distribusi benih tersebut. Di antaranya Desa Cerme, Kecamatan Grogol, disalurkan benih jagung mencapai 350 kilogram (kg) untuk lahan seluas 10 hektar. Lalu di Desa Datengan, Kecamatan Grogol, diberikan bantuan benih padi sebanyak 350 kilogram juga untuk luasan 10 hektar.

    Kemudian, di Desa Merjoyo, Kecamatan Purwoasri, bantuan benih padi diberikan lebih dari 1.000 kg untuk areal pertanian seluas 30 hektar. Di Desa Purwotengah, Kecamatan Papar, yang mengalami gagal panen pada lahan seluas 10 hektar, bantuan benih jagung yang disalurkan hampir mencapai 200 kg.

    “Arahan dari Mas Dhito dalam penyaluran ini untuk tidak mengubah pola dan varietas yang sudah terbiasa ditanam oleh petani,” jelas Sukadi, saat menyalurkan bantuan benih jagung di Desa Purwotengah, Papar, Senin (7/7/2025).

    Sukadi menambahkan, bantuan ini juga merupakan dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional, sekaligus upaya meringankan beban petani pasca banjir. Terlebih, menurutnya, tahun 2025 diprediksi akan menjadi musim basah sehingga cukup sulit diprediksi.

    Kondisi ini, lanjut Sukadi, memberikan dampak signifikan bagi para petani, terutama di wilayah dataran rendah. Banyak lahan pertanian, termasuk yang ditanami padi dan jagung menjadi terendam, bahkan mengalami gagal panen.

    Seperti diakui Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Papar Ari Setiawan, bahwa lahan pertanian di Desa Purwotengah sempat terendam air selama beberapa hari. Akibatnya, tanaman milik petani mengalami gagal panen.

    “Selain faktor hujan, saluran pembuangannya juga kurang memadai sehingga tidak bisa langsung menampung air hujan,” sambung Ari, sapaannya.

    Penyaluran benih yang disesuaikan dengan kebutuhan petani, sebagaimana harapan Mas Dhito, diharapkan mampu menjaga produktivitas sektor pertanian di Kabupaten Kediri. Mengingat kabupaten dengan 344 desa ini menjadi salah satu lumbung pangan di Jawa Timur.

    Adapun selain bantuan berupa benih, Pemerintah Kabupaten Kediri juga memberikan bantuan berupa penyemprotan pupuk mikro menggunakan drone di Desa Merjoyo, Purwoasri. Bantuan ini diberikan untuk memulihkan tanaman yang terendam banjir pada akhir Mei 2025 lalu.

  • Mas Dhito Dukung Investor Lokal Kembangkan Peternakan Susu Perah di Kabupaten Kediri

    Kediri – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengapresiasi munculnya pengusaha lokal yang akan berinvestasi pada sektor peternakan khususnya pengembangan peternakan sapi perah di Kabupaten Kediri.

    Investasi pada peternakan sapi perah ini, selain mendukung pemenuhan susu secara nasional juga dapat menyedot tenaga kerja. Terlebih investor telah menyatakan komitmennya untuk merekrut tenaga kerja dari warga miskin.

    “Pada prinsipnya kami Pemerintah Kabupaten Kediri sangat mensuport, apalagi siap menyerap tenaga kerja dari warga miskin,” kata bupati yang akrab disapa Mas Dhito ini di Kantor pemkab Kediri, Jumat (4/7/2025).

    Dukungan itu disampaikan Mas Dhito saat melakukan pertemuan dengan Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian dan pihak investor dari PT IBS Farm dari Plosoklaten. Terlebih komitmen dari pihak investor sejalan dengan program kerjanya di periode kedua, yang fokus mengentaskan kemiskinan ektrem.

    Untuk mengentaskan warga dari kemiskinan ektrem, pemerintah daerah siap menggandeng berbagai pihak, terutama pengusaha yang akan berinvestasi di Kabupaten Kediri. Mas Dhito pun meminta jajarannya untuk dapat membantu suksesnya pengurusan perizinan bagi para investor.

    “Kita sudah menanti investor datang, ini sudah di depan mata, jangan sampai gagal karena administrasi,” ungkapnya.

    Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian Makmun dalam pertemuannya dengan Mas Dhito mengungkapkan,  saat ini untuk memenuhi kebutuhan susu di Indonesia masih harus impor.  Sebab produksi susu di Indonesia baru 21 persen dari 4,7 juta ton total kebutuhan.

    “Produksi kita itu baru 1 juta ton setiap tahun dan 60 persen populasi sapinya di Jawa Timur,” ungkapnya.

    Kedatangannya di Kabupaten Kediri itu diakui sebagai upaya pemerintah dalam mengurangi impor susu mengingat adanya kesanggupan pengusaha lokal untuk mengembangkan peternakan sapi perah. Dalam hal ini, PT IBS Farm rencananya berinvestasi 3000 ekor sapi perah secara berkala.

    Sebagai tahap awal, dari 500 ekor sapi perah yang rencananya akan didatangkan dari Australia pada tahun 2025, kini sebanyak 100 ekor sudah datang dan berada di Balai Karantina sebelum akhirnya dikirim ke kandang milik IBS Farm.

    Sementara itu, Pemilik IBS Farm Muhammad Rofiq menyatakan keseriusannya untuk berinvestasi di peternakan sapi perah. Sebagaimana yang telah dijalankan pada budidaya sapi pedaging selama ini,  seluruh tenaga kerja diambil dari masyarakat sekitar, khususnya mereka dari kalangan kurang mampu.

    “Kita telah membicarakan dengan Dinas Sosial meminta data warga miskin yang akan saya rekrut untuk kerja di situ,” akunya.

  • Pembangunan Stadion GDJ Terus Berjalan, Mas Dhito Pastikan Selesai 2027

    Kediri – Pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati yang dimulai tahun 2023 dan masuk dalam proyek multi years Pemerintah Kabupaten Kediri masih menjadi fokus Bupati Hanindhito Himawan Pramana.

    Mas Dhito, sapaan akrabnya menyebut pembangunan stadion tahap kedua yang semula akan diteruskan pemerintah pusat, akhirnya diambil alih kembali oleh Pemkab Kediri. Untuk menyelesaikan pembangunan stadion secara keseluruhan hingga penataan site development dilakukan dalam beberapa tahap.

    Pada tahun 2025 ini, pembangunan akan melanjutkan penyelesaikan zona A yang diperuntukkan bagi pemain termasuk pembangunan akses jalan masuk stadion. Untuk pembangunan zona A ini, pemerintah Kabupaten Kediri mengalokasikan anggaran sebesar Rp10 miliar.

    Pembangunan pada zona A ini meliputi pekerjaan arsitektur dinding, pemasangan lantai granit, pekerjaan intalasi pemeliharaan sistem mekanikal atau MEP (_Mechanical, electrical dan Plumbing_). Selain pekerjaan zona A ini, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp3 miliar untuk pembangunan akses jalan penunjang stadion.

    “Tahun kemarin kita telah membebaskan lahan (akses tembus Jalan Provinsi) dengan anggaran Rp13 miliar,” katanya saat meninjau Stadion Gelora Daha Jayati di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kamis (3/7).

    Mas Dhito memastikan setiap tahun proses pembangunan akan terus berjalan. Dimana pada 2026, anggaran yang direncanakan untuk melanjutkan pembangunan stadion ini sebesar Rp55 miliar dan 2027 sebesar Rp51 miliar.

    “Saya memastikan pembangunan stadion ini akan selesai pada tahun 2027,” urainya.

    Lebih detail disebutkan, pada tahun 2026 pekerjaan dilanjutkan menyelesaikan atap stadion, MEP, kemudian site development. Pekerjaan yang belum selesai di tahun 2026 ini, akan dilanjutkan ditahun berikutnya termasuk pemasangan single seat di tribun penonton.

    Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kediri Irwan Chandra Wahyu Purnama melalui Kabid Binamarga Haris Siswanto menambahkan, pembebasan lahan untuk akses tembus jalan provinsi dilakukan pada 2024 dengan panjang 675 meter. Adapun tahun 2025 ini, pembangunan dilakukan untuk akses jalan di depan stadion dengan spesifikasi lebar 7 meter ditambah bahu jalan masing-masing 1 meter.

    “Ini untuk penunjang akses ke stadion, panjangnya 373 meter dan dua minggu lagi mulai dikerjakan target selesai di Bulan Oktober,” tambahnya.

  • Mas Dhito Pastikan Pembangunan Stadion GDJ Selesai 2027, Ini Tahapannya

    Kediri – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana memastikan pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati (GDJ) yang telah dimulai pada 2023 akan rampung pada tahun 2027. Pada tahun 2025 ini, Pemerintah Kabupaten Kediri akan menyelesaikan pekerjaan zona A dan pembangunan akses jalan penunjang stadion.

    “Tahun 2025 ini kita anggarkan Rp10 miliar untuk menyelesaikan zona A dan Rp3 miliar untuk pembangunan jalan,” kata bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu saat meninjau stadion yang berlokasi di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kamis (3/7).

    Zona A merupakan bagian vital karena menjadi ruang bagi para pemain. Secara detail pekerjaan pada bagian ini meliputi pekerjaan interior, arsitektur dinding, pemasangan lantai granit, pekerjaan intalasi pemeliharaan sistem mekanikal atau MEP (Mechanical, electrical dan Plumbing).

    Selain menyelesaikan pekerjaan pada zona khusus pemain itu, pekerjaan juga termasuk pintu masuk stadion. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Kediri juga mengalokasikan anggaran Rp3 miliar untuk pembangunan akses jalan di depan stadion dengan lebar 7 meter ditambah bahu jalan masing-masing 1 meter.

    Jalan di depan stadion yang dibangun ini nantinya akan ditembuskan dengan akses jalan provinsi. Pembebasan lahan dengan panjang 675 meter untuk menembus jalan provinsi ini telah dilakukan pada 2024 lalu.

    “Tahun kemarin kita telah membebaskan lahan (akses tembus Jalan Provinsi) dengan anggaran Rp13 miliar,” tambahnya.

    Progres pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati secara keseluruhan saat ini telah mencapai sekitar 30 persen, mencakup struktur bangunan baik bagian dalam maupun luar stadion. Seluruh proses pembangunan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kediri.

    Untuk menyelesaikan pembangunan stadion secara keseluruhan hingga penataan site development diperlukan hingga selesai dilakukan dalam beberapa tahap. Mas Dhito pun memastikan setiap tahunnya pembangunan stadion terus berjalan.

    Disampaikan, pada 2026, Pemerintah Kabupaten Kediri mengalokasikan pagu anggaran untuk melanjutkan pembangunan stadion ini sebesar Rp55 miliar dan 2027 sebesar Rp51 miliar.

    Secara detail, pada 2026 pekerjaan fokus pada pemasangan atap stadion, instalasi sistem mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP), serta pengembangan kawasan atau site development. Kemudian pekerjaan dilanjutkan pada 2027 untuk pemasangan single seat, penyempurnaan sistem MEP, dan site development.

    “Saya memastikan pembangunan stadion ini akan selesai pada tahun 2027,” tegas Mas Dhito.

  • Mas Dhito Tekankan Perubahan APBD 2025 Tak Ganggu Sektor Pelayanan Dasar

    Kediri – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menyampaikan nota keuangan Rancangan Perubahan APBD 2025 dalam rapat paripurna DPRD Kabupaten Kediri di Gedung Graha Sabbha Canda Bhirawa, Selasa (1/7) malam.

    Mas Dhito mengungkapkan, pembahasan Rancangan Perubahan APBD 2025 ini menindaklanjuti atas nota kesepakatan bersama perubahan atas Kebijakan Umum Anggaran serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD Tahun 2025.

    “Perubahan ini tetap mempertimbangkan pada pemenuhan skala prioritas lingkup kebutuhan masyarakat yang dianggap paling penting secara ekonomi, efisien dan efektif,” kata Mas Dhito.

    Secara rinci dijelaskan Mas Dhito, Rancangan  Perubahan APBD 2025 meliputi pendapatan daerah yang mengalami kenaikan sebesar 1,47 persen dari APBD murni 2025 menjadi Rp3.314.665.162.885,54 atau Rp3,3 triliun.

    Kemudian, penerimaan pembiayaan daerah juga mengalami kenaikan sebesar 10,95 persen dari APBD murni menjadi Rp235.944.377.304,46 atau Rp235,9 miliar.

    “Sehingga kekuatan APBD pada Rancangan Perubahan APBD 2025 sebesar Rp3.550.609.540.190 (Rp3,55 triliun) naik 2,50 persen dari APBD murni 2025,” terangnya.

    Dalam Rancangan Perubahan APBD 2025 tersebut, lanjut Mas Dhito belanja daerah juga mengalami kenaikan 2,48 persen dari APBD murni menjadi Rp3.537.432.120.834 atau Rp3,537 triliun.

    Kemudian, pengeluaran pembiayaan daerah yang semula dalam APBD murni 2025 dianggarkan sebesar Rp27,5 miliar turun 52,08 persen menjadi Rp13.177.419.356 atau Rp13,1 miliar.

    Mas Dhito menekankan, perubahan APBD pada dasarnya merupakan sebuah tahapan dalam penyempurnaan APBD. Pun begitu, Perubahan APBD 2025 tidak mengubah fokus pemerintah dalam memprioritaskan sektor pelayanan dasar, baik kesehatan, sosial infrastruktur, dan pendidikan.

    “Tentunya 4 hal itu kita harapkan di perubahan ini tetap menjadi fokus kita bersama,” pungkasnya.

    Sebagaimana diketahui, sesuai ketentuan Pasal 177 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, penyampaian Raperda Perubahan APBD 2025 kepada DPRD itu selanjutnya akan dibahas untuk memperoleh persetujuan bersama, paling lambat minggu kedua bulan September tahun anggaran berkenaan.